Amalan Ampuh Untuk Sentiasa Kelihatan Muda


Suplement Sumber Alam

  • Sentiasa Dalam Wudhuk


Amalan Quran

  • Malam-malam sebelum tidur, baca surah Al Mulk
  • Setiap hari baca surah Al Waqiah
  • Khamis petang selepas Asar, baca surah Al Kahfi
  • Malam Jumaat, baca surah Ad Dukhan


Amalan Selawat - Ibadah Pasti Di Terima


 

Seorang murid pernah bertanya kepada Syaikh Ali Jum’ah, Mufti Mesir: “Syaikh, dalam buku Anda tertulis bahwa membaca shalawat adalah satu-satunya ibadah yang pasti diterima oleh Allah. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya.”

Syaikh Ali Jum’ah menjawab:

“Ya benar, saya menulis demikian. Bershalawat Nabi adalah amalan yang pasti diterima oleh Allah. Jika kamu bersedekah, dan kamu ingin dipuji, maka sedekahmu sia-sia. Begitu pula jika kamu shalat karena ingin diperhatikan manusia, shalatmu tanpa pahala. Tapi jika kamu bershalawat, walaupun kamu riya, kamu tetap akan mendapatkan pahala, karena shalawat berhubungan dengan Nabi Allah yang agung, yaitu Nabi Muhammad Saw.” 

Shalawat, Satu-satunya Ibadah yang Pasti Diterima 

Dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah, Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Imam asy-Syadzili berkata:

“Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad SAW. Aku bertanya, “Ada hadits yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

Nabi SAW. menjawab, “Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca.”

Allah Swt. memerintahkan para malaikatNya untuk senantiasa memohonkan doa kebaikan dan ampunan bagi orang tersebut (yang membaca shalawat).

Terlebih jika ia membaca dengan hati yang hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya.

Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdoa tidak dimulai dengan memuja Allah Swt., tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.

Baginda Nabi SAW mendengar ada seseorang yang sedang berdoa tapi tidak dibuka dengan memuja Allah SWT dan tanpa membaca shalawat, Nabi SAW bersabda, “Orang ini terburu-buru.”

Kemudian Nabi SAW mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati, “Jika diantara kalian berdoa, maka harus diberi pujian kepada Allah Swt., membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Apalagi jika bertepatan dengan hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya. Karena Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits:

“Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepadaku.” 

Ulama sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah SAW Ada penyair yang berkata:

“Senantiasalah membaca shalawat, sebab shalawat pasti diterima. Adapun amal yang lain mungkin saja diterima atau ditolak, kecuali shalawat pasti diterima.”

Shalawat Penghantar Ma’rifat

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para ulama telah sepakat atas diwajibkannya membaca shalawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad SAW. Kemudian mereka berselisih pendapat mengenai kapan kewajiban ini harus dilakukan.

Menurut Imam Malik, cukup satu kali dalam seumur hidup. Menurut Imam Syafi’i, wajib dibaca pada waktu tasyahud akhir dalam setiap shalat fardhu. Menurut ulama lainnya, wajib dibaca satu kali dalam setiap majelis.

Ada juga ulama yang berpendapat wajib membaca shalawat setiap kali mendengar nama Nabi SAW disebut. Dan ada juga yang mengatakan untuk memperbanyak shalawat tanpa dibatasi bilangan tertentu.

Secara umum, membaca shalawat kepada Nabi Saw. merupakan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.” “Membaca shalawat merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan paling besar pahalanya.

Sampai-sampai sebagian kaum ‘arifin mengatakan: “Sesungguhnya shalawat itu bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat billah meskipun tanpa guru spiritual (mursyid). Karena guru dan sanadnya langsung melalui Nabi SAW.” Ingat, setiap shalawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada Nabi SAW. dan beliau Nabi SAW membalasnya dengan doa serupa.

Hal ini berbeda dengan dzikir-dzikir (selain shalawat) yang harus melalui guru spiritual (mursyid), yang sudah mencapai maqam ma’rifat. Jika tidak demikian maka akan dimasuki setan dan pengamalnya tidak akan mendapat manfaat apapun.” (Hasiyah ash-Shawi ‘ala al-Jalalain juz 3 hlm. 287).

Abdurrahman bin Samrah meriwayatkan sebuah hadits yang dituturkan oleh Sa’id bin al-Musayyab, bahwa Nabi SAW bersabda, “Kulihat seorang dari umatku berjalan di atas shirath, kadang merangkak-rangkak dan kadang bergelantung.

Kemudian datanglah shalawat (yang diucapkannya dahulu ketika hidup di dunia) lalu membangunkannya hingga dapat berdiri dan berjalan dengan kakinya, lalu ia diselamatkan oleh shalawatnya.” (HR. Abu Musa al-Madini dalam at-Targhib wa at-Tarhib, hadits hasan jiddan). Wasiat-Nasehat Para Ulama tentang Shalawat Imam Abul Hasan asy-Syadzilli pernah berkata, “Di akhir zaman tidak ada amalan yang lebih baik daripada bershalawat kepada Rasulullah SAW.”

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan, “Tidak tertolak shalawat atas Nabi SAW.” Al-Hafidz asy-Syaraji berkata, “Semua dzikir tidak diterima kecuali dengan khusyuk dan hadir hatinya kecuali shalawat, maka akan diterima meskipun tanpa khusyuk dan hadirnya hati.

Karena itu Abul Hasan al-Bakri berpesan: “Seharusnya tiap hari seseorang jangan kurang membaca shalawat dari 500 kali.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berwasiat, “Dengan membaca shalawat, seorang hamba dapat meraih keridhaan Allah Swt., memperoleh kebahagiaan dan restu Allah Swt., berkah-berkah yang dapat dipetik, doa-doa yang terkabulkan, bahkan dia bisa naik ke tingkatan derajat yang lebih tinggi, serta mampu mengobati penyakit hati dan diampuni dosa-dosa besarnya.”

Adapun Syaikh Ibn Athaillah as-Sakandari berkata, “Siapa yang (merasa) tidak memiliki amalan shalat dan puasa yang banyak untuk menghadap Allah di hari kiamat, maka hendaknya ia perbanyak membaca shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW.” Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menyebutkan bahwasanya para ulama berkata, “Satu shalawat dari Allah cukup untuk seorang hamba, dunia dan akhirat.”

As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki pernah berpesan, “Jangan tinggalkan membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Karena bacaan shalawat itu merupakan kunci segala kebaikan dan pintu segala keutamaan untuk agama, dunia dan akhirat.”

Al-Habib Umar bin Hafidz mengatakan, “Sesungguhnya apabila engkau melakukan ketaatan kepada Allah seumur hidupmu, bahkan Allah berikan di atas umurmu adalah umurnya seluruh manusia untuk digunakan dalam ketaatan kepadaNya, maka sesungguhnya lebih hebat satu shalawat dari Allah Swt."

Muhasabah Diri dan Teruskan Berselawat





























Wajib Amalkan Ajaran Tasauf



Seluruh ulama-ulama Ahlus-sunnah berpendirian adalah wajib bagi setiap muslim mengamalkan tasawwuf. 
 
Tasawwuf adalah ilmu yang membicarakan tentang ahwal hati, segala penyakit-penyakit hati, sifat-sifat yang tercela dan sifat-sifat terpuji, sekalian syirik khafi serta menunjukkan jalan membaiki hati tersebut melalui zikrullah dan mujahadah. 
 
Seluruh Ilmu ini adalah bersumberkan Al-Qur'an dan Hadis Nabi صلى الله عليه وسلم Ilmu tasawwuf yang wajib diamalkan ada diterangkan di dalam kitab-kitab ulama Ahlus-sunnah seperti Ihya Ulumuddin, Minhajul Abidin, I'anatut-Talibin, Sirrus-Salikin dan Hidayatus-Salikin. 
 
Berkata Imam Ghazali رضي الله عه : 
 
"Bermula ilmu tentang qalbu dan mengenal penyakitnya berupa iri hati, riya' dan semisalnya adalah fardhu 'ain." 
 
Seseorang muslim tidak akan dapat menjadikan dirinya sebagai hamba Allah dengan hanya mengamalkan ilmu fiqh semata-mata. Malah wajib baginya menghimpunkan kedua-duanya; iaitu ilmu fiqh dan ilmu tasawwuf untuk kesejahteraan zahir dan batin. 
 
Seperti kata Imam Malik رضي الله عه: 
 
"Sesiapa yang mengamalkan Fiqh tanpa tasawwuf, maka dia fasiq. Sesiapa mengamalkan tasawwuf tanpa fiqh, maka dia zindiq. Mengimpun keduanya itulah yang haq."

Kedudukan Serban Mengikut Penilaian Ulamak Islam




Kebanyakan orang yang berserban apabila ditanya “Kenapa anda memakai serban?”, mereka akan menjawab; “Kerana saya ingin mengikuti Nabi s.a.w. dalam berpakaian (khususnya dalam hal menutup bahagian kepala)”. Serban adalah antara pakaian Nabi s.a.w.. Sama ada kita berpandangan pemakaian serban itu sunat atau tidak, mendapat pahala atau tidak mendapat pahala, kita tidak boleh menafikan bahawa Nabi s.a.w. sememangnya memakai serban dalam hidupnya. Oleh perbahasan tentang pemakaian serban ini kita akan mulakan dengan membahaskan tentang pengertian as-Sunnah dan ruang lingkupnya terlebih dahulu.



Pengertian as-Sunnah

Apa yang terbit dari Nabi s.a.w. dinamakan as-Sunnah. Secara amnya para ulamak mentakrifkan as-Sunnah sebagai; “Segala yang terbit dari Nabi s.a.w. -selain dari al-Quran- sama ada ucapan baginda, perbuatan baginda atau pengakuan baginda”. Berdasarkan takrifan ini, maka as-Sunnah dapat dibahagikan kepada tiga kategori iaitu;



1. Sunnah Qauliyah


Iaitu perkataan-perkataan yang diucapkan oleh Nabi s.a.w. dalam pelbagai sempena dan tujuan. Kebiasaannya dipanggil dengan al-Hadith (الحديث) di mana apabila disebut sahaja al-Hadith maka difahami bahawa yang dimaksudkan ialah Sunnah Qauliyah (yakni ucapan-ucapan Nabi s.a.w.).



2. Sunnah Fi’liyah

Iaitu apa-apa yang dilakukan atau dikerjakan oleh Nabi s.a.w.. Contoh Sunnah Fi’liyah ini juga banyak, antaranya; perlaksanaan solat dengan bentuk-bentuk dan rukun-rukunnya, perlaksanaan haji, pengadilan baginda dalam penghakiman dan sebagainya.



3. Sunnah Taqririyah

Iaitu senyap Nabi terhadap perbuatan atau percakapan yang berlaku di hadapan baginda iaitu baginda tidak mengingkarinya. Senyapnya baginda itu menunjukkan bahawa perbuatan atau percakapan itu adalah harus di sisi Syara’ kerana seorang nabi tidak akan sekali-kali membisu apabila berhadapan dengan kebatilan.



Perbuatan Nabi dan ruang-lingkupnya

Antara yang tergolong dalam as-Sunnah ialah perbuatan Nabi s.a.w.. Perbuatan-perbuatan Nabi s.a.w. ada yang berkait dengan urusan agama secara langsung (seperti urusan ibadat, ketetapan hakam, halal dan haram dan sebagainya), ada yang berkait dengan urusan duniawi (seperti politik, masyarakat, ketenteraan dan seumpamanya) dan ada yang berkait dengan amalan rutin atau kebiasaan sebagai manusia (antaranya makanan, pakain, kenderaan dan sebagainya). Secara lebih jelas, Syeikh Muhammad al-Hadhari dalam bukunya “أصول الفقه” menjelaskan; “Perbuatan-perbuatan Nabi s.a.w. terdiri dari tiga kategori;



a) Jibilli (جبلي); iaitu perbuatan yang bersifat tabi’ie atau kebiasaan sebagai manusia seperti makan, minum, tidur, berpakaian dan yang seumpamanya.

b) Qurb (قرب); iaitu perbuatan untuk taat atau mendekatkan diri kepada Allah seperti solat, puasa, sedekah dan yang semisal dengannya.

c) Mu’amalat (معاملات);
iaitu perbuatan yang berupa interaksi sesama manusia seperti jual-beli, perkahwinan, akad muzara’ah, mu’amalat harta dan semisalnya.



Dr. Yusuf al-Qaradhawi juga menjelaskan; “Di antara yang dapat diperhatikan ialah dari kalangan fi’liyah Nabi s.a.w. ada yang terbit dari jibiliyyah dan tabi’iyyah (yakni kebiasaan dan tabi’ie sebagai manusia) seperti riwayat soheh yang menceritakan; “Adalah Nabi menyukai labu (الدباء/القرع)”. Begitu juga, riwayat yang menceritakan; “Baginda menyukai daging di bahagian kaki (kambing atau sebagainya)”. Di antara sunnah Fi’liyyah ada juga yang terbit dari adat/kebiasaan seperti memakai serban dan melepaskan ekornya antara dua bahu. Di antara sunnah fi’liyyah itu juga ada yang terbit dari baginda dalam bentuk qurbah iaitu yang dilakukan dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah ketika melakukannya seperti perbuatan-perbuatan baginda dalam solat, ketika haji dan umrah, zikir-zikir dan doa dan yang lain lagi seumpamanya…”.



Pendirian ulamak usul tentang perbuatan jibilliyyah dan tabi’iyyah Nabi s.a.w..



Serban termasuk dalam jenis pakaian. Oleh demikian pemakaian serban oleh Nabi s.a.w. sudah tentunya termasuk dalam kategori perbuatan jibiliyyah atau perbuatan kebiasaan baginda sebagai seorang manusia. Menyentuh tentang perbuatan jibiliyyah ini, apa pandangan ulamak tentangnya khususnya ulamak usul? Di bawah tajuk ini kita akan kemukakan beberapa ulasan kitab-kitab Usul Fiqh berhubung persoalan tersebut. Jawapan bagi persolaan ini amat penting kerana ia akan menentukan sikap kita terhadap pemakaian serban serta amalan-amalan kebiasaan Nabi yang lain.



Dalam kitab Nuzhatul-Musytaq (Syarah al-Luma’), pengarangnya menegaskan; “Perbuatan-perbuatan Nabi s.a.w. sama ada ia berupa qurbah dan taat atau bukan berupa qurbah dan taat. Jika ia tidak berupa qurbah dan taat, akan tetapi menyerupai urusan jibiliyy (kebiasaan manusiawi) seperti urusan makan, minum, berdiri, duduk dan sebagainya dari apa yang nampak ketara padanya urusan jibiliyyah, maka ia berdiri di atas hukum ibahah (yakni harus) di sisi jumhur ulamak sama ada bagi diri baginda dan umatnya. Namun Qadhi Abu Bakar al-Baqilani menaqalkan dari sekumpulan ulamak bahawa ia adalah mandub (yakni sunat mengikutinya). Adalah Abdullah bin Umar r.a. sentiasa memberi perhatian kepada perbuatan-perbuatan Nabi seumpama itu dan mengikutinya sebagaimana yang diketahui dan dinaqalkan di dalam kitab-kitab as-Sunnah”.



Lebih terperinci, Imam as-Syaukani menjelaskan dalam kitab usulnya yang masyhur iaitu Irsyadil-Fuhul; “Perbuatan Nabi s.a.w. yang tidak berkait dengan ibadat dan nampak nyata padanya urusan jibiliyyah (yakni kebiasaan sebagai seorang manusia) seperti berdiri, duduk dan sebagainya, maka tidak ada padanya kewajipan mengikut atau mematuhinya, akan tetapi ia menunjukkan kepada keharusan berdasarkan pandangan jumhur/majoriti ulamak. Qadhi Abu Bakar al-Baqilani menaqalkan dari sekumpulan ulamak yang berpendapat bahawa ia adalah sunat (yakni digalakkan mengikutinya). (Pandangan yang sama) diceritakan oleh Imam al-Ghazali dalam al-Mankhul. Begitu juga, Abdullah bin Umar r.a. sentiasa memberi perhatian kepada perbuatan-perbuatan Nabi seumpama itu dan mengikutinya sebagaimana yang sedia diketahui dari beliau dan dinaqalkan di dalam kitab-kitab hadis..”. (*Sikap dan pendirian Ibnu Umar ini kita akan kemukakan di dalam satu tajuk yang khusus di depan nanti).



Beliau menjelaskan lagi; “(Di antara perbuatan Nabi s.a.w.), ada yang dapat diandaikan telah keluar dari semata-mata kebiasaan (jibilliy) kepada menjadi Syari’at dengan kerana berterusan baginda melakukannya dalam bentuk yang diketahui umum dan dalam keadaan yang khusus. Ia seperti perbuatan makan, minum, berpakain dan tidur. Maka perbuatan Nabi yang berada dalam kategori ini sekalipun tahapnya di bawah kategori perbuatan-perbuatan baginda yang nampak padanya urusan Qurbah (ibadah dan ketaatan), namun ia lebih atas dari perbuatan-perbuatan yang nampak padanya urusan jibilliy (kebiasaan manusiawi) semata-mata. Itu sekiranya perbuatan tersebut tanpa terdapat petunjuk atau dorongan dari Nabi (yakni baginda hanya melakukannya sahaja). Namun jika terdapat petunjuk atau dorongan dari baginda seperti baginda menunjukkan kepada suatu cara dari cara-cara makan, minum, berpakaian, tidur dan sebagainya, maka ia terkeluar dari semata-mata kategori ini (yakni kategori sebagai perbuatan jibilli) dan berpindah menjadi kategori amalan atau perbuatan yang disyari’atkan. Imam Syafi’ie mempunyai dua pandangan (yang dinaqalkan darinya) berkenaan perbuatan Nabi s.a.w. yang termasuk kategori ini; apakah ia merujuk kepada asal iaitu tidak disyari’atkan, atau merujuk kepada apa yang zahir, iaitu disyari’atkan. Pandangan yang rajih dari beliau ialah yang kedua iaitu disyari’atkan. Pandangan ini juga diceritakan oleh Imam Abu Ishaq dari majoriti ahli-ahli hadis. Oleh demikian, kedudukannya adalah sunat (mandub)”.



Dr. Abdul Karim Zaidan kitabnya al-Wajiz Fi Ushul al-Fiqh menjelaskan; “Perbuatan-perbuatan jibilliyah iaitu yang terbit dari Nabi s.a.w. kerana tabi’ie (kebiasaan semulajadi) dan atas sifatnya sebagai manusia seperti makan, minum, berjalan, duduk dan sebagainya; maka ia tidak tergolong dalam kategori Tasyrik kecuali atas perkiraan keharusannya ke atas sekelian mukallaf. Oleh demikian tidak wajib mengikuti Rasulullah s.a.w. dalam cara perlakuan baginda bagi perbuatan-perbuatan tersebut. Namun sebahagian sahabat ada yang menanamkan hasrat mengikuti Nabi s.a.w. dalam perbuatan-perbuatan tersebut. Contohnya Abdullah bin Umar r.a.. Ikutan tersebut adalah satu langkah yang baik (sekalipun tidak diwajibkan-pent.)”.



Kesimpulan;

Dari pandangan ilmu usul di atas, kita dapat simpulkan bahawa majoriti ulamak meletakkan amalan-amalan atau perbuatan-perbuatan Nabi s.a.w. yang berada dalam kategori jibilliy (yakni amalan atau perbuatan tabi’ie sebagai seorang manusia) adalah berstatus harus sama ada bagi diri baginda atau bagi umatnya. Oleh kerana ia berstatus harus sahaja, maka kaum muslimin tidak diwajibkan atau dituntut mengikuti baginda dalam urusan jibilliy tersebut. Namun jika mereka ingin mengikuti baginda –bukan atas dasar wajib atau tuntutan- tetapi atas dasar ingin meniru baginda atau sebagai tanda kasih kepada baginda, maka ia diharuskan. Malah menurut Dr. Abdul Karim Zaidan, ikutan tersebut adalah baik kerana mencontohi sikap sebahagian sahabat.



Adapun Imam as-Syaukani, dari penjelasan beliau kita dapat membahagikan amalan atau perbuatan jibilliy Nabi s.a.w. kepada tiga tahap;



a) Ada di antaranya yang bersifat harus semata-mata mengikut jumhur ulamak.


b) Ada di antaranya yang lebih tinggi dari bersifat harus semata-mata iaitu ia menghampiri urusan qurbah (ketaatan atau ibadah) kerana berterusan dilakukan oleh Nabi s.a.w..


c) Ada di antaranya yang telah berubah dari semata-mata kebiasaan Nabi kepada menjadi Syari’at iaitu apabila terdapat penegasan atau dorongan dari Nabi s.a.w..



Bagaimana dengan pemakaian serban? Adakah ia berada di tahap pertama, kedua atau ketiga? Bagi menjawab persoalan ini, kita perlu meninjau dengan lebih luas hadis-hadis yang menceritakan secara lansung amalan berserban oleh Nabi s.a.w..; Apakah ia merupakan amalan yang dilakukan tanpa perhatian oleh baginda? Apakah ia menjadi amalan baginda yang berterusan yang sentiasa dijaga? Dan adakah terdapat dorongan dari baginda terhadap pemakaian serban?



Hadis-hadis tentang serban


Serban atau dalam bahasa Arabnya dipanggil al-‘Imamah sekalipun tidak bernilai Syari’at pada asasnya kerana ia berstatus amalan jibilli, namun kitab-kitab hadis muktabar tidak ketinggalan menaqalkan tentang serban Nabi s.a.w.. Malah ada yang meletakkannya di dalam bab yang khusus. Ini dapat kita lihat dari senarai bab dalam kitab-kitab hadis berikut;


• سنن الترمذي( بَابُ مَا جَاءَ في العمامةِ السَّوداءِ)
• سُنَنُ أبي دَاوُد (باب في العمائم)
• سنن ابن ماجه (باب لُبس العمائم في الحرب، باب العمامة السوداء ،باب إرخاء العمامة بين الكتفين)
• سنن النسائي (لبس العمائم الحرقانية، لبس العمائم السود، لبس العمائم السود، باب إرخاء طرف العمامة بين الكتفين)
• معجم الطبراني الكبير (باب ما جاء في لبس العمائم والدعاء وغير ذلك)
• رياض الصالحين (باب صفة طول القميص والكم والإزار وطرف العمامة وتحريم إسبال شيء من ذلك على سبيل الخيلاء وكراهته من غير خيلاء).
• نيل الأوطار (باب ما جاء في لبس القميص والعمامة والسراويل)
• الشمائل المحمدية للإمام الترمذي (باب ما جاء في عمامة رسول الله).



Fakta tersebut menggambarkan bahawa serban Nabi mempunyai nilai tersendiri di mata para sahabat yang menjadi perawi pertama dari Nabi sehingga mereka memerhatinya pada baginda dan menceritakannya kepada generasi selepas mereka. Para ulamak dan muhaddithin juga bersikap serupa sehingga mereka meletakkan satu bab yang khusus dalam kitab hadis atau sunan mereka menyentuh tentang serban Nabi s.a.w.. Di antara hadis-hadis yang akan kita temui dalam rujukan-rujukan hadis muktabar tentang serban Nabi s.a.w. ialah;



a) Jabir bin Salim r.a. menceritakan;

إن رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم دخل مكة وعليه عمامة سوداء


“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. memasuki Mekah dengan memakai serban berwarna hitam”. (Riwayat Imam Muslim, Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasai dan Ibnu Majah).



Berkata Ibnu Hajar; “Warna hitam di sini seakan-akan menunjukkan fungsi kepimpinan Rasulullah s.a.w. pada hari yang bersejarah ini dan boleh jadi juga warna hitam di sini bukan satu perkara yang menjadi matlamat (yakni hanya kebetulan sahaja)”. Berkata Ahmad Abdul Jawad ad-Dumi dalam mengulas hadis ini; “Hadis ini menunjukkan bahawa pemakaian serban adalah lebih utama berbanding pakaian yang lain”.



Berkata Imam Nawawi; “Memakai warna putih adalah lebih utama dan serban putih adalah lebih sesuai sebagai perhiasan para ulamak pada zaman ini”. Saranan Imam Nawawi ini menepati hadis Rasulullah s.a.w.;



عن سمرة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: البسوا البياض فإنها أطهر وأطيب، وكفنوا فيها موتاكم
Dari Samurah bin Jundab r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda; “Pakailah pakaian berwarna putih kerana sesungguhnya ia lebih suci dan lebih baik dan kafankanlah dengannya jenazah-jenazah kamu”.
(Sunan at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, Musnad Imam Ahmad)



b) Nafi’ meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a. menceritakan;



وعن نافع عن ابن عمر قال: كان النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم إذا اعتم سدل عمامته بين كتفيه قال نافع: وكان ابن عمر يسدل عمامته بين كتفيه.


“Adalah Nabi s.a.w. apabila memakai serban, baginda melepaskan ekor serbannya di antara dua bahunya”. Berkata Nafi’; Ibnu Umar apabila memakai serban, beliau melepas ekor serbannya antara dua bahunya (yakni kerana mengikuti perbuatan Nabi s.a.w.).
(Riwayat Imam at-Tirmizi dengan sanad yang hasan)



Berkata Imam asy-Syaukani ketika mengulas hadis ini; “Hadis ini menunjukkan bahawa sunat memakai serban…..dan sunat pula menjuntaikan ekor serban di antara kedua bahu”.



Berdasarkan kenyataan beliau itu, maka kita dapat menyimpulkan bahawa pada pandangan Imam as-Syaukani, pemakaian serban adalah sunat.



c) Diriwayatkan oleh Jaafar bin Amru bin Harith dari bapanya yang menceritakan;

رأيت النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم على المنبر وعليه عمامة سوداء قد أرخى طرفها بين كتفيه
“Aku telah melihat Nabi s.a.w. di atas mimbar dengan memakai serban hitam di mana ia telah melepaskan ekornya di antara dua bahunya”.
(Riwayat Imam Muslim, at-Tirmizi, Abu Daud, an-Nasai dan Ibnu Majah)



d) Ibnu ‘Adiyy meriwayatkan dari Jabir r.a. yang menceritakan;

كان للنبي صلى اللَّه عليه وسلم عمامة سوداء يلبسها في العيدين ويرخيها خلفه
“Bahawa bagi Nabi s.a.w. serban hitam yang dipakainya pada hari raya dan baginda menjuntaikan ekornya ke belakangnya”. (Riwayat Ibnu ‘Adiyy)



Hadis-hadis di atas menunjukkan bahawa memakai serban menjadi kelaziman Nabi s.a.w. di mana baginda memakainya ketika membaca khutbah, pada hari raya, ketika peperangan termasuklah ketika pembukaan kota Mekah. Malah terdapat hadis menceritakan baginda tidak menanggalnya sekalipun ketika mengambil wudhuk.



Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. yang menceritakan;

رأيت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يتوضأ وعليه عمامةٌ قطريَّةٌ، فأدخل يده من تحت العمامة فمسح مقدَّم رأسه ولم ينقض العمامة.
“Aku telah melihat Rasulullah s.a.w. mengambil wudhuk dalam keadaan berserban di mana baginda memasukkan tangannya ke bawah serbannya lalu menyapu hadapan kepalanya. Baginda tidak menanggalkan serbannya”. (Riwayat Imam Abu Daud)



Nabi s.a.w. mengajar sahabat memakai serban


Selain hadis-hadis yang menceritakan tentang serban Nabi s.a.w., di sana terdapat juga hadis yang menceritakan tentang baginda memakaikan serban kepada sahabatnya atau mengajar mereka bagaimana cara yang sepatutnya berserban.



Imam at-Thabrani meriwayatkan di dalam al-Ausat (الأوسط) dari Abdullah bin Umar r.a. yang menceritakan;

أن النبي صلى اللَّه عليه وآله وسلم عمم عبد الرحمن بن عوف فأرسل من خلفه أربع أصابع أو نحوها ثم قال: هكذا فاعتم فإنه أعرب وأحسن
“Sesungguhnya Nabi s.a.w. memakaikan serban kepada Abdur-Rahman bin ‘Auf r.a, di mana baginda melepaskan ekor serban itu ke belakangnya sepanjang empat jari atau seumpamanya, kemudian baginda berkata; Beginilah memakai serban. Sesungguhnya ia lebih kemas dan lebih cantik”.


(Hadis ini menurut Imam as-Suyuti adalah hasan. Hadis ini menunjukkan bahawa berserban adalah sunat).



Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abdur-Rahman bin ‘Auf r.a. yang menceritakan;

عممني رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم
“Rasulullah s.a.w. telah memakaikan serban kepadaku…....”.



Imam at-Tabrani meriwayatkan dari Abdullah bin Yasir yang menceritakan;

بعث رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم علي ابن أبي طالب عليه السلام إلى خيبر فعممه بعمامة سوداء


“Rasulullah s.a.w. telah mengutuskan Saidina Ali bin Abi Thalib ke Khaibar, lalu baginda memakaikan serban kepadanya dengan serban berwarna hitam”. (Hadis ini menurut Imam as-Suyuti adalah hasan)



Hadis-hadis tentang fadhilat serban


a) Diriwayatkan dari Rukanah bin Abd Yazid al-Hasyimi r.a. yang menceritakan bahawa beliau mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda;

إنَّ فرقَ ما بينَنَا وبين المشركينَ العمائمُ على القلانِسِ


“Perbezaan antara kita dan orang-orang Musyrikin ialah memakai serban di atas kopiah”.
(Riwayat Imam at-Tirmizi, Abu Daud dan al-Baihaqi. Menurut Imam as-Suyuti dalam al-Jami’ as-Saghier (hadis no. 5849); hadis ini dhaif)



b) Dari Jabir r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda;



ركعتان بعمامة خير من سبعين ركعة بلا عمامة
“Dua rakaat solat dengan berserban lebih baik dari 70 rakaat tanpa serban”. (Riwayat Imam ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus. Menurut Imam as-Suyuti; hadis ini adalah dhaif. Lihat; al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 4468)



c) Dari Ibnu Umar r.a. menceritakan sabda Nabi s.a.w.;

صلاة تطوع أو فريضة بعمامة تعدل خمسا وعشرين درجة بلا عمامة، وجمعة بعمامة تعدل سبعين جمعة بلا عمامة


“Melakukan solat sunat atau fardhu dengan memakai serban adalah menyamai pahalanya dua puluh lima darjat tanpa serban. Solat Jumaat tanpa serban menyamai 70 Jumaat tanpa serban”.
(Riwayat Ibnu ‘Asakir dari Ibnu Umar r.a.. Menurut Imam as-Suyuti dalam al-Jami’ as-Saghier (hadis no. 5101); hadis ini adalah soheh. Namun ada ulamak berpandangan hadis ini lemah sebagaimana dijelaskan dalam Faidhul-Qadier oleh Imam al-Minawi)



d) Dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda;

اعتموا تزدادوا حلما


“Berserbanlah kamu, nercaya akan bertambah sifat hilm (kesabaran) pada diri kamu”.
(Riwayat Imam at-Tabrani dan al-Hakim. Menurut al-Hakim; hadis ini adalah soheh. Begitu juga Imam as-Suyuti dalam al-Jami’ as-Saghier (hadis no. 1142) menyatakannya sebagai soheh. Namun ada juga ulamak yang menyatakannya sebagai dhaif seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Minawi dalam Faidhul-Qadier).



e) Dari Usamah bin ‘Umair r.a. menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda;

اعتموا تزدادوا حلما، والعمائم تيجان العرب
“Pakailah serban, nescaya akan bertambah sifat hilm (kesabaran) pada diri kamu. Serban itu adalah mahkota orang-orang Arab”. (Riwayat Ibnu al-‘Adiy dan al-Baihaqi. Menurut as-Suyuti; hadis ini dhaif. Lihat; al-Jami’ as-Saghier, hadis no. 1143).



Kedudukan darjat hadis-hadis tentang serban


Dengan meneliti hadis-hadis tentang serban sebagaimana yang dibentangkan tadi, kita akan mendapati bahawa hadis-hadis tersebut berada dalam dua kategori;



Pertama; hadis-hadis yang menceritakan dan menerangkan bahawa Nabi s.a.w. pernah berserban. Hadis-hadis dalam kategori ini bertaraf soheh kerana diriwayatkan oleh Imam Muslim di samping Imam-Imam yang lain seperti Abu Daud, at-Tirmizi, an-Nasai dan Ibnu Majah. (Sila perhati kembali tajuk “Hadis-hadis berkenaan serban Nabi s.a.w.” tadi).



Kedua; Hadis-hadis yang menyuruh berserban dan yang menyebutkan fadhilat memakainya. Hadis-hadis yang dalam kategori ini menurut penilaian muhaddithin adalah bertaraf dhaif.



Berdasarkan analisa di atas, maka kenyataan setengah pihak bahawa hadis-hadis tentang serban adalah dhaif belaka, kenyataan tersebut adalah tidak tepat dan tidak berhati-hati. Ia boleh mengelirukan orang awam kerana mereka akan menganggap semua hadis tentang serban adalah lemah dan tidak bernilai, walhal hadis-hadis tentang Nabi berserban adalah soheh. Yang dhaif hanyalah hadis-hadis yang berupa suruhan atau galakan berserban. Adapun hadis-hadis yang berupa pernyataan atau pemberitahuan bahawa Nabi berserban adalah soheh dan dapat dijadikan hujah.



Mungkin ada yang mempersoalkan; apa gunanya hadis yang hanya berupa pernyataan atau pemberitahuan itu bagi amalan berserban pada zaman hari ini? Jawapan kita ialah; Walaupun hadis soheh tentang serban hanya berbentuk memberitahu, bukan dalam bentuk menyuruh, akan tetapi berdasarkan kepada kedudukan Nabi sebagai uswah dan teladan yang paling baik, maka memakai serban dengan niat meniru baginda ada kebaikan dan pahalanya. Dalam pengertian yang lain dapat kita simpulkan bahawa; Sekalipun tiada suruhan secara Tasyri’ agar kita berserban, namun dengan niat ikhlas untuk mencontohi dan meneladani apa yang pernah dilakukan oleh Nabi s.a.w., para sahabat, tabiin dan ulamak serta diiringi pula oleh niat baik untuk menghias diri, maka insyaAllah kita akan dikurniakan pahala oleh Allah.



Tambahan pula, pemakaian serban itu diperkukuhkan pula oleh hadis-hadis yang menyebutkan fadhilatnya sekalipun bertaraf dhaif kerana jumhur ulamak berpandangan hadis dhaif harus di amalkan dalam fadhilat amalan dengan syarat-syarat berikut;



1. Ia tidak terlalu dhaif
2. Amalannya telah sabit dengan dalil yang sahih. Adapun hadis dhaif hanya bersifat sampingan yang mensabitkan fadhilatnya sahaja.
3. Hendaklah beramal dengan iktiqad bahawa ia tidak sabit dari Rasulullah s.a.w.. iaitu beramal atas dasar ihtiyat sahaja.



Berkata Imam an-Nawawi; “Para ulamak di kalangan muhaddithin dan fuqahak mengharuskan malah menyukai beramal dengan hadis dhaif dalam fadhilat-fadhilat, targhib (memberi dorongan) dan tarhib (memberi ancaman) selagi ia tidak maudhu’ (yakni bukan hadis palsu). Adapun dalam masalah hukum-hakam seperti halal dan haram, nikah-kahwin, talak dan sebagainya maka tidak amalkan melainkan dengan hadis soheh atau hasan….”.



Ulasan Syeikh Rasyid Redha


Syeikh Muhammad Rasyid Redha pernah ditanya adakah memakai serban itu sunnah Rasulullah dan adakah orang yang memakai serban itu mendapat pahala? Untuk menjawab soalan ini, beliau memberikan jawapan seperti berikut;



“Telah sabit dalam hadis bahawa Nabi s.a.w. terkadang;
1. Memakai serban di atas kopiah dan inilah yang sering berlaku.
2. Memakai serban tanpa kopiah
3. Memakai kopiah tanpa serban.


Walau bagaimana pun tidak warid perintah yang kuat supaya memakai serban atas dasar sebagai salah satu hukum agama dan Syari’at. Maka sesiapa berserban berdasarkan niat menyerupai dalam hal berpakain Nabi s.a.w. kerana sebagai salah satu tanda cinta kasih kepada baginda, tentulah niat seperti ini mendapat ganjaran pahala. Begitulah juga halnya dengan perkara-perkara lain dalam mencontohi kebiasaan-kebiasaan baginda s.a.w..



Ulasan Syeikh ‘Ali Nasif dalam at-Tajul-Jami’


Syeikh ‘Ali Nasif dalam kitabnya “At-Tajul-Jami’ Lil-Usul Fi Ahadith ar-Rasul” di bawah tajuk al-‘Imamah (Serban) membuat ulasan; “Terdapat segolongan orang Islam meninggalkan serban dengan hujjah bahawa ia hanyalah adat atau kebiasaan sama seperti makan, minum dan sebagainya dan bukan dari agama. Selalunya yang mendorong mereka berpandangan demikian adalah sikap suka meniru bangsa lain. Walhal jika kita meletakkan berserban itu sebagai adat sekalipun, ia merupakan semulia-mulia adat kerana ia adalah adat Nabi s.a.w. di mana baginda adalah semulia-mulia makhluk pada pandangan sekelian kaum muslimin. Pepatah Arab ada menyebutkan; “Adat orang-orang besar adalah setinggi-tinggi adat”. Namun apa yang sebenarnya ialah; berserban adalah tergolong dalam agama melihat kepada nas-nas. Ia adalah sunnah para Nabi dan Rasul. Memadai (untuk menunjukkan kemuliaannya kepada kita) dengan Malaikat Jibril sendiri berserban ketika turun berjumpa Nabi s.a.w.. Begitu juga, Nabi s.a.w. telah bersabda kepada Abdur-Rahman tatkala memakaikannya serban;

هكذا فاعتم فإنه أعرب وأحسن


“Beginilah memakai serban. Sesungguhnya ia lebih kemas dan lebih cantik”.



Hikmah serban ialah menjaga tubuh-badan di mana di negara panas ia memelihara dari sinaran matahari, adapun di negeri sejuk ia menjaga dari kesejukan…Selain itu, hikmah serban juga ialah untuk perhiasan dan keelokan (dalam berpakaian).



Pandangan dan sikap sahabat terhadap amalan kebiasaan Nabi s.a.w.


Dr. Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan di dalam bukunya al-Madkhal li-Dirasati as-Sunnah an-Nabawiyyah; Di kalangan sahabat terdapat mereka yang mengikuti Nabi s.a.w. dalam segala perbuatannya sekalipun tidak nampak pada perbuatan tersebut bentuk qurbah (tujuan mendekatkan diri kepada Allah), semata-mata kerana sempurnanya kasih-sayang mereka kepada baginda dan keinginan yang bersangatan untuk mengikuti baginda dalam setiap urusan hidupnya. Di antara mereka ialah Ibnu Umar r.a..



Imam Mujahid menceritakan; “Kami mengikuti Ibnu ‘Umar r.a. dalam satu perjalanan. Lalu apabila ia sampai di satu tempat, ia melencung darinya (yakni mengambil jalan ke arah kanan atau ke kiri). Lalu kami bertanya kepadanya; “Kenapa kamu melakukan demikian?”. Ia menjawab; “Aku telah melihat Rasulullah melakukan sedemikian, maka aku pun turut melakukannya”. (Riwayat Imam Ahmad dan al-Bazzar dengan sanad yang baik).



Zaid bin Aslam menceritakan; Aku telah melihat Ibnu Umar r.a. menunaikan sembahyang dalam keadaan terbuka kancing-kancing bajunya. Lalu aku bertanya beliau tentang perbuatannya itu. Maka ia menjawab; “Aku telah melihat Rasulullah telah melakukannya”. (Riwayat Ibnu Khuzaimah dalam Sohehnya dan Imam al-Baihaqi dalam Sunannya)



Dalam riwayat yang lain; Ibnu Umar r.a. apabila ia melintasi sebuah pokok antara Mekah dan Madinah, ia akan berhenti dan berehat di bawahnya. Apabila ditanya kenapa? Ia menjawab; “Kerana dia melihat Rasulullah telah melakukannya”. (Riwayat Imam Ibnu al-Bazzar dengan sanad yang dapat diterima)



Selain Ibnu Umar, seorang sahabat yang lain yang mengambil sikap serupa ialah Mu’awiyah bin Qurrah. ‘Urwah bin Abdillah bin Qusyair menceritakan dari Mu’awiyah yang meriwayatkan dari bapanya yang menceritakan; “Aku Ia telah datang kepada Nabi s.a.w. dalam satu rombongan, lalu aku bersama kumpulan itu berbai’ah dengan Nabi s.a.w.. Sesungguhnya butang-butang baju Nabi s.a.w. (ketika itu) dalam keadaan terbuka (yakni tidak dikancingkan oleh baginda)”. Urwah menceritakan; “Aku tidak pernah melihat Mu’awiyah dan begitu juga anaknya sama ada di musim sejuk atau musim panas melainkan kancing-kancing baju mereka dalam keadaan terbuka (kerana meniru Nabi s.a.w.). (Riwayat Imam Ibnu Majah)



Serban menjadi pakaian ulamak silam dan hari ini


Ahli Sejarah Islam terkenal iaitu Ibnu ‘Asakir (meninggal tahun 571 Hijrah) meriwayatkan Tarikhnya dari Imam Malik yang berkata;

لا ينبغي أن تترك العمائم ولقد اعتممت وما في وجهي شعرة


“Tidak sepatutnya ditinggalkan/diabaikan amalan memakai serban. Sesungguhnya saya memakai serban sejak belum tumbuh rambut di wajah saya (yakni belum bermisai dan berjanggut)”.



Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Manaqib asy-Syafi’ie menyebutkan antara lainnya; Rabi’ bin Sulaiman pernah ditanya orang tentang cara berpakaian dan jenis pakaian Imam Syafi’ie. Rabi’ menerangkan; “Pakaiannya adalah sederhana, tidak memakai jenis pakaian yang mahal, ia hanya memakai kain yang diperbuat dari kapas dan tenunan Baghdadi, terkadang ia memakai kopiah dan tidak berlebih-lebihan dan ia lebih sering memakai serban….”.



Dari keterangan Rabi’ yang dinaqalkan oleh Imam al-Baihaqi itu jelas membuktikan bahawa Imam as-Syafi’ie adalah salah seorang ulamak mujtahid yang memakai serban.



Pada zaman Khalifah Abi Ja’far al-Mansur (tahun 135-158H/752-774M) , apabila beliau mengasaskan Baitul-Hikmah yang kemudiannya berfungsi sebagai pusat buku-buku, penterjemahan dan institusi ilmu di kota Baghdad, serban telah dijadikan satu pakaian istimewa khasnya di kalangan para penuntutnya dan para ulamak. Serban berwarna hitam telah dijadikan sebagai satu pakain rasmi yang mesti dipakai oleh para guru, pelajar dan graduan Baitul-Hikmah dengan tujuan untuk membezakan antara golongan terpelajar dengan orang-orang lain. Dan cadangan pakaian serban hitam ini bagi penuntut dan graduan Baitul-Hikmah serta bagi ulamak-ulamaknya terbit dari cadangan Imam Abu Yusuf sebagaimana yang disebutkan oleh Dr. Khidir ‘Athaullah setelah membuat kajian tentangnya. Katanya; “Pada zaman itu para ulamak dan guru-guru mempunyai pakaian khas. Maka Abu Yusuf adalah orang yang mula-mula sekali membuat perubahan terhadap pakain para ulamak. Dan ia telah mencadangkan bagi penuntut-penuntut golongan Baitul-Hikmah supaya memakai serban hitam dan jubah….Dan semenjak zaman itu, jadilah serban hitam dan jubah ini pakain yang lazim dipakai para guru dan ulamak fikih”.



Kemudian dengan jatuhnya kota Baghdad pada tahun 656H/1258M ke tangan Mongol, pengamalan memakai serban ini mengalami perubahan. Akibat kejam dan bengisnya bangsa Mongol terhadap penyokong-penyokong Abbasiyah dan para ulamak pada ketika itu, maka ramailah yang mula melepaskan serban dari kepala kerana takut menjadi perhatian penguasa baru yang bukan lagi berbangsa Arab dan belum lagi memeluk Islam.



Ibnu Batutah (703-779H) yang membuat pengembaraan ke pelbagai pelusuk dunia di abad ke 7 Hijrah, ketika mencatatkan semula apa yang dilihat dan disaksikannya dalam pengembaraannya tentang tradisi penduduk kota suci Mekah, menerangkan bahawa khatib pada hari Jumaat di Masjid Mekah memakai serban hitam. Katanya; “Di antara tradisi penduduk kota suci Mekah pada hari jumaat ialah merapatkan mimbar berhampiran ke Kaabah al-Musyarrafah di antara rukun Hajarul Aswad dengan rukun Iraqi dan khatib akan mengadap ke arah maqam Ibrahim. Kemudian apabila khatib muncul, ia keluar dengan memakai pakaian serba hitam; serban hitam dan jubah hitam”.



Apa yang dicatatkan oleh Ibnu Batutah itu berdasarkan apa yang dilihatnya sendiri di kota suci Mekah memberi makna bahawa pakaian serban hitam merupakan pakaian rasmi khatib di Masjidil Haram pada abad yang ke-8 Hijrah.



Di Mesir, serban masih kekal hingga ke hari ini menjadi lambang para ulamak dan penuntut lepasan al-Azhar. Para ulamak al-Azhar majoritinya adalah berjubah dan berserban. Syeikhul al-Azhar dan juga Mufti Mesir hingga ke hari masih mengekalkan identiti berserban dan berjubah sebagai pakaian rasmi mereka. Begitu juga, khatib-khatib di serata Masjid di seluruh pelusuk Mesir, mereka berjubah dan berserban khususnya pada hari jumaat.



Al-Marhum Syeikh Muhammad al-Ghazali –salah seorang ulamak al-Azhar yang terkenal-, pernah suatu ketika beliau melawat ke satu negeri di Eropah. Semasa dalam keretapi, ada seorang menegur beliau; ‘Tidak bolehkah engkau menanggalkan serban dan jubah engkau dan engkau memakai kot … sepertimana orang di sini biasa memakainya”. Beliau menjawab; “Apa salahnya aku memakai pakaian yang biasa dipakai oleh ulama’-ulama’ al-Azhar. Jika seorang anggota tentera, anggota polis dan sebagainya berbangga dengan uniform tentera dan polisnya, maka aku juga berbangga dengan uniform al-Azharku (yakni berserban dan berjubah)”.



Kesimpulan akhir


1. Serban sekalipun merupakan pakaian tradisi orang Arab, namun kaitannya dengan peribadi Nabi s.a.w. meletakkannya sebagai pakaian yang mempunyai nilai dan kehormatan tersendiri di mata kaum muslimin termasuk para sahabat. Sekalipun kita berpegang bahawa pemakaian serban adalah harus, namun kedudukannya sebagai pakaian Nabi meletakkannya lebih baik dari topi, songkok hitam, dan sebagainya yang ditiru dari pakain orang Barat, dari India atau dari bangsa lainnya.



2. Di kalangan ulamak ada yang berpandangan secara jelas bahawa pemakaian serban adalah sunat. Antara mereka Imam as-Syaukani sebagaimana pandangan beliau dalam Nailul-Autar. Sekalipun majoriti ulamak berpandangan ianya harus sahaja, namun mereka menjelaskan bahawa sesiapa berserban dengan niat meniru Nabi s.a.w. dalam cara berpakain baginda atau untuk melahirkan tanda cinta kasih kepada baginda, maka ia akan mendapat ganjaran pahala dari Allah.



3. Tidak ada pandangan dari ulamak bahawa orang yang memakai serban adalah haram dan berdosa. Oleh demikian, orang berserban – dari segi pandangan Syarak- berhak mempertahankan kebebasannya berserban kerana ia diharuskan oleh agama. Malah orang yang mengharamkan apa yang diharuskan Syarak tanpa ada suatu kemudaratan yang menimpa diri atau orang lain, maka ia terdedah dengan ancaman Allah;



“Katakanlah (Wahai Muhammad): "Siapakah Yang (berani) mengharamkan perhiasan Allah Yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya, dan demikian juga benda-benda Yang baik lagi halal dari rezeki Yang dikurniakanNya?" katakanlah: "Semuanya itu ialah (nikmat-nikmat) untuk orang-orang Yang beriman (dan juga Yang tidak beriman) Dalam kehidupan dunia; (nikmat-nikmat itu pula) hanya tertentu (bagi orang-orang Yang beriman sahaja) pada hari kiamat". Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat keterangan Kami satu persatu bagi orang-orang Yang (mahu) mengetahui”. (al-A’raf: 32)



Wallahu a’lam.

Dipetik dari penulisan :
Ustaz Ahmad Adnan Fadzil
(Koleksi Al-Qalam)

Form B


FORM B

Assalamualaikum dan Salam Sejahtera.

Sekarang dah bulan April. Masih ada ke yang belum start buat akaun dan kira cukai untuk perniagaan sendiri?

Untuk perniagaan sendiri individual atau perkongsian boleh prepare form B. Form B adalah borang untuk individu yang ada perniagaan di Malaysia untuk submit ke LHDN.

Last date submit form B ni 30/6 tiap tahun. Jadi kalau terlewat submit akan kena 10% penalty dari nilai cukai yang kita kena bayar.

Semoga tak terlewat ya.
Semoga bermanfaat.

#urusakauncukaiperniagaan
#celikakaun #planforaccount
#celikcukai #planfortax

Bekerja dari rumah dan cabarannya

Sekarang zaman sudah berubah, bilaman internet menguasai perhubungan antara dunia. Untuk mencari rezeki dan bekerja, bukan hanya perlu keluar ke tempat tertentu. Tapi juga boleh dilakukan dari rumah sahaja. Cuma cabaran bekerja dari rumah memang agak banyak juga, terutama untuk memberi faham kepada orang lain tentang budaya kerja yang kita lakukan. Kerana rata-rata orang biasa berfikir kerja mesti di luar rumah, jika duduk di rumah maknanya tiada kerja.
.
Awal-awal dahulu aku merasa tersinggung sekali dan stress bila orang asyik tidak memahami. Bila nak apa-apa, nak ke mana-mana terus je telefon nak minta segera. Sebab? Kononnya aku kan hanya duduk di rumah, jadi boleh je nak buat sesuka hati.
.
Lama kelamaan aku mula faham, mereka beranggapan begitu sebab aku sendiri tidak cuba memberi kefahaman kepada mereka. Bahawa kerja di rumah sama seperti kerja di pejabat, ada waktu kerjanya dan perlu disiplin. Jauh di sudut hati, aku ingin sekali budaya kerja di rumah ini dihormati dan disegani. Bukan semua orang duduk di rumah hanya duduk sahaja, makan tidur. Ada orang yang berusaha sama seperti orang yang bekerja di luar rumah, berusaha untuk mendapatkan pelanggan setiap hari, berusaha untuk menyiapkan artikel dan lain-lain hanya untuk mendapatkan sesuap nasi.
.
Apa yang aku belajar daripada pandangan orang tentang semua ini ialah ~ aku sendiri yang perlu memberitahu dan bertegas tentang budaya kerja aku. Aku perlu nyatakan bahawa aku juga bekerja dari 8 pagi hingga 5 petang, cuma bezanya pejabat aku di rumah. Dan pendapatan aku dikira harian, berbeza dengan pendapatan bulanan orang yang makan gaji di luar. Aku juga makan gaji, dengan pejabatku sendiri, dengan perniagaanku sendiri.
.
Dua cabaran besar bekerja di rumah ialah DISIPLIN dan MASA. Jadi aku akan pastikan aku punya jadual kerja sendiri yang boleh menjadikan aku mengatasi kedua-dua cabaran di atas. Jauh di sudut hati aku percaya, aku juga BOLEH BERJAYA hanya dengan bekerja dari rumah. Dan aku akan berusaha untuk mengembangkan perusahaan aku ini ke peringkat seterusnya yang lebih tinggi. Masa rehat aku juga sama seperti masa rehat orang yang bekerja di luar rumah dan aku akan tetapkan slot itu. Maksudnya aku hanya boleh keluar atau membuat kerja lain pada waktu rehat sahaja. Di waktu bekerja aku masih tetap kena bekerja dan menyiapkan segala kerja.

waritahati
5 April 2018

My Brain Dump

Pernah terbaca sebelum ini cara-cara untuk brain dump mengosongkan fikiran kemudian menyusun kembali apa yang penting untuk dibuat. Saya ada kongsikan cara-caranya sebagaimana yang disarankan oleh penulis tersebut DI SINI.

Jadi, di bawah ini antara senarai yang ada di dalam kepala saya saat ini. Saya tuliskan satu demi satu tanpa sebarang pengelasan terlebih dahulu. 

- labelkan / manage whatsapp bisnes.
- siapkan database customer bulan Jan 2018 (whatsapp/beli)
- buat fb group premium BS
- masukkan / invite cust yang dah buat belian bulan Jan 2018.
- buat template sistem point.
- masukkan rekod belian cust 2015-2018 dan masukkan point reward.
- siapkan jadual posting Feb 2018.
siapkan template gambar dan video untuk posting.

Ok, itu antara senarai Brain Dump saya yang perlu saya siapkan. Sekarang, mari kita mulakan dengan menyusun kesemuanya satu demi satu ikut keperluan ~ mana yang nak dibuat dahulu, mana yang nak dibuat kemudian.

Popular Posts